Klasifikasi Jenis Penyandang Disabilitas Yang Paling Umum Ditemui

Ada beberapa klasifikasi penyandang disabilitas dengan masing-masing kondisi tertentunya. Mereka biasanya memiliki sebuah keterbatasan yang sering dianggap sebagai sebuah kekurangan. Padahal, belum tentu keterbatasan tersebut menjadi kekurangan yang perlu dibelas kasihani temukan lebih banyak di sini.

Karena pada faktanya, mereka terkadang memiliki semangat dan potensi yang lebih besar daripada kita yang memiliki keadaan yang sempurna. Namun demikian, sebenarnya apa saja klasifikasi penyandang disabilitas yang umumnya kita temui?

4 Klasifikasi Penyandang Disabilitas Yang Paling Sering

Disabilitas merupakan suatu kondisi yang bersifat baik fisik, motorik, mental, sensorik, kognitif, emosional, maupun perkembangan lainnya. Beberapa klasifikasi dari disabilitas adalah sebagai berikut.

1. Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Kondisi ini terjadi di mana para penyandang tidak bisa melihat secara keseluruhan maupun parsial. Hal yang perlu kita lakukan untuk para penyandang ini adalah menanyakan atau menawarkan bantuan kepada mereka di saat-saat tertentu. Selain itu kita juga perlu mengidentifikasi diri kita sendiri dan orang lain, jangan hanya melihat kekurangannya tersebut.

2. Cacat Fisik
Dalam hal ini adalah kondisi di mana penderita memiliki kekurangan atau ketidakmampuan secara fisik. Biasanya berbentuk kekurangan dalam anggota gerak atau mobilitas mereka. Adapun cacat fisik tersebut bisa terjadi permanent, sementara, maupun kondisi terbaru karena mengalami suatu kecelakaan atau kondisi lainnya.

3. Keterbatasan Pendengaran Atau Berbicara (Tunarungu)
Kedua hal ini seringkali berkaitan dan terjadi pada orang yang sama. Gangguan tersebut bervariasi, mulai dari tunarungu ringan hingga total. Orang dengan gangguan pendengaran yang ringan biasanya masih bisa dibantu menggunakan alat dengar. Kita perlu memahami mereka dengan Bahasa isyarat yang mereka utarakan. Akan lebih baik jika mereka didampingi oleh penerjemah untuk memperlancar komunikasi.

4. Gangguan Mental
Di sini, para penyandang disabilitas gangguan mental bukan berarti bahwa dirinya adalah seseorang yang gila. Tetapi lebih kepada gangguan yang terjadi pada seseorang yang berpengaruh terhadap kinerja otak atau pikiran mereka. Hal ini meliputi bipolar, kecemasan, depresi, stress, gangguan kepribadian, dan lainnya.

Pada dasarnya masih ada beberapa klasifikasi lainnya yang mungkin bisa Anda temui. Namun pada dasarnya, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang harus kita hindari atau jauhi. Justru mereka membutuhkan rangkulan, bantuan, serta support dari kita untuk maju bersama.

Aksesibilitas Dan Informasi Inklusif

Penyandang disabilitas menghadapi banyak kendala dalam kehidupan. Ini khususnya terbukti dalam bencana alam dan konflik bersenjata temukan ini. Seorang anak dengan tuna rungu tidak akan memiliki peluang untuk keluar dari tsunami jika hanya ada sirene yang memperingatkan akan potensi tsunami. Seorang wanita tuna netra tidak akan dapat menemukan pos bantuan makanan atau tempat penampungan darurat jika hanya tanda yang menunjukkan jalannya. Seseorang di kursi roda tidak akan dapat mencapai fasilitas bantuan yang hanya dapat diakses melalui tangga. Setiap organisasi kemanusiaan harus mempertimbangkan aksesibilitas. Melakukan semua itu tidak hanya membantu penyandang disabilitas tapi juga bermanfaat bagi orang lain karena pengumuman dengan pengeras suara membantu orang yang buta huruf, ram yang landai dapat menjadi akses yang mudah untuk melayani anak-anak dan orang tua.

Aksesibilitas juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari misalnya, transportasi publik, sekolah, tempat kerja, dan kantor pemerintah. Itu berarti lebih dari sekadar membangun eskalator. Sekolah membutuhkan bahan pengajaran untuk anak-anak tunanetra, dan birokrat pemerintah perlu pelatihan tentang cara berinteraksi dengan orang-orang disabilitas. Pelatihan kepekaan dan pendidikan, apalagi, menciptakan peluang bagi para penyandang disabilitas dan meningkatkan kehidupan mereka. Perubahan sikap membuat hambatan lebih mudah diatasi. Fasilitas-fasilitas ini memberi mereka akses yang lebih baik ke pekerjaan dan pendidikan dan dengan demikian memungkinkan mereka untuk hidup lebih mandiri.

Selain itu informasi dan penyuluhan akan pentingnya inklusivitas juga harus menjadi salah satu hal yang mendesak untuk dilakukan. Kelompok swadaya dan advokasi terutama merupakan sumber informasi yang baik tentang di mana para penyandang disabilitas tinggal dan jenis bantuan apa yang mereka butuhkan. Kelompok-kelompok ini juga dapat memberikan saran tentang bagaimana menangani orang yang bersangkutan dan berinteraksi dengan mereka secara tepat. Sumber informasi lain yang relevan termasuk lembaga pemerintah, rumah sakit, organisasi amal, dan sekolah. Para pemimpin organisasi berbasis agama sering tahu banyak tentang anggota yang disabilitas di komunitas mereka. Terlebih lagi, sangat berguna untuk mempelajari terminologi tentang disabilitas, terutama dalam bahasa lokal.Inklusi dimungkinkan ketika politisi dan masyarakat sipil melihatnya sebagai masalah yang menjadi perhatian semua orang dan memperhitungkannya dalam proyek pembangunan sejak awal. Sudah saatnya ini terjadi karena satu miliar orang disabilitas tidak boleh lagi diabaikan.