Aksesibilitas Dan Informasi Inklusif

Penyandang disabilitas menghadapi banyak kendala dalam kehidupan. Ini khususnya terbukti dalam bencana alam dan konflik bersenjata temukan ini. Seorang anak dengan tuna rungu tidak akan memiliki peluang untuk keluar dari tsunami jika hanya ada sirene yang memperingatkan akan potensi tsunami. Seorang wanita tuna netra tidak akan dapat menemukan pos bantuan makanan atau tempat penampungan darurat jika hanya tanda yang menunjukkan jalannya. Seseorang di kursi roda tidak akan dapat mencapai fasilitas bantuan yang hanya dapat diakses melalui tangga. Setiap organisasi kemanusiaan harus mempertimbangkan aksesibilitas. Melakukan semua itu tidak hanya membantu penyandang disabilitas tapi juga bermanfaat bagi orang lain karena pengumuman dengan pengeras suara membantu orang yang buta huruf, ram yang landai dapat menjadi akses yang mudah untuk melayani anak-anak dan orang tua.

Aksesibilitas juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari misalnya, transportasi publik, sekolah, tempat kerja, dan kantor pemerintah. Itu berarti lebih dari sekadar membangun eskalator. Sekolah membutuhkan bahan pengajaran untuk anak-anak tunanetra, dan birokrat pemerintah perlu pelatihan tentang cara berinteraksi dengan orang-orang disabilitas. Pelatihan kepekaan dan pendidikan, apalagi, menciptakan peluang bagi para penyandang disabilitas dan meningkatkan kehidupan mereka. Perubahan sikap membuat hambatan lebih mudah diatasi. Fasilitas-fasilitas ini memberi mereka akses yang lebih baik ke pekerjaan dan pendidikan dan dengan demikian memungkinkan mereka untuk hidup lebih mandiri.

Selain itu informasi dan penyuluhan akan pentingnya inklusivitas juga harus menjadi salah satu hal yang mendesak untuk dilakukan. Kelompok swadaya dan advokasi terutama merupakan sumber informasi yang baik tentang di mana para penyandang disabilitas tinggal dan jenis bantuan apa yang mereka butuhkan. Kelompok-kelompok ini juga dapat memberikan saran tentang bagaimana menangani orang yang bersangkutan dan berinteraksi dengan mereka secara tepat. Sumber informasi lain yang relevan termasuk lembaga pemerintah, rumah sakit, organisasi amal, dan sekolah. Para pemimpin organisasi berbasis agama sering tahu banyak tentang anggota yang disabilitas di komunitas mereka. Terlebih lagi, sangat berguna untuk mempelajari terminologi tentang disabilitas, terutama dalam bahasa lokal.Inklusi dimungkinkan ketika politisi dan masyarakat sipil melihatnya sebagai masalah yang menjadi perhatian semua orang dan memperhitungkannya dalam proyek pembangunan sejak awal. Sudah saatnya ini terjadi karena satu miliar orang disabilitas tidak boleh lagi diabaikan.